The Winds of Autumn

The Winds of Autumn (Seasons of the Heart #2)The Winds of Autumn by Janette Oke
My rating: 3 of 5 stars

Buku ini adalah seri kedua dari The Season of Heart. Seri yang paertama berjudul once upon in Summer. Di buku The Winds of Autumn ini, Josh pindah bersama dengan bibi Lou dan paman Nat ke kota untuk bersekolah di sana pulalah dinamika kehidupannya terjadi lagi. Dan bagaimana dia bisa berfikir tentang mempertentangkan Tuhan dengan kejadian kejadian yang dialaminya, serta pelajaran pelajaran yang didapatnya dari guru barunya. Tapi pada akhirnya dia tau, Tuhan ada bersamanya. Semua yang terjadi dalah kehendak dari Tuhan, dan memang itulah yang terbaik yang harus terjadi. Pertentangan pertentangan yang menjadi pertanyaannya, terjawab pada akhirnya. Dan disitulah dia bersyukur bahwa sesuatu memang harus terjadi, dan tidak harus terjadi.
Buku ini penuh dengan hikmah yang bisa kita renungkan. Hanya saja alur cerita yang terasa lambat kadang agak membosankan.

Pelajaran dari Pohon Penghasil Minyak Gaharu

Suatu hari aku pernah mengeluh pada seorang teman.

“Kuliah ni lama lama gak seru! Tiap hari ada aja tugasnya. Bukan tiap hari lagi, tapi tiap mata kuliah dan tiap pertemuan. Tugasnya tuh kadang bikin repot,, makalah, presentasi… pokoknya yang menyita banyak waktu gitu lah ngerjainnya tuh. Blom lagi laporan praktikum yang gak pernah enggak bikin repot…”

“emang kamu maunya gimana?”

“ya,, yang gak ngerepotin gitu lah. Aku bisa makan 3 kali dan tidur 7 jam sehari dengan tenang… aku sempet mbaca novel novel ku juga,, ni udah dua bulan tapi blom ada novel yang selesai ku baca lho…”

“Kamu tau minyak gaharu?”

Aku mengangguk.

“iya, kamu juga sudah tau cara pembuatan minyak gaharu. Pohon penghasil minyak harus ditoreh, supaya dia terinfeksi oleh mikroba dan dia akan mengeluarkan senyawa fitoaleksin untuk mempertahakan diri dari penyakit yang mungkin dihasilkan oleh mikroba. Dan senyawa itu yang berbau harum yang dipanen sebagai bahan untuk membuat minyak wangi. Dan pohon yang dah ngeluarin minyak gaharu tuh gak bagus yah? Dah banyak batang yang lembek lembek juga gitu kan yah?”

Aku mengangguk lagi.

“itu sama kayak kita gak sih? Kamu jadi kurus gitu karena kurang makan, trus mata berkantung karena kurang tidur. Aku badanku juga jadi bengkak gara gara kebanyakan ngemil buat begadang. Pohon penghasil minyak gaharu itu, kalo gak ditoreh, dia bagus kali… rindang gitu… tapi begitu ditoreh dan dikasih mikroba, ya jadi jelek. ”

“masalahku tuh bukan di badan cuy, tapi capek… bosen…”

“Kamu yakin gak sih kalo tanaman itu hidup?”

“iya donk.”

“emang dia mau ditoreh toreh gitu? Gak kan? Kita juga,, anggaplah tugas ma laporan itu torehan buat kita. Infeksinya apa? Ya kita jadi capek, bosen, dan lain lain. Tapi apa hasil yang kita dapat? Kita jadi wangi, kita menghasilkan sesuatu yang bisa berguna buat orang lain. Coba minyak gaharu, dia berguna kan buat orang lain? Buat dupa, minyak wangi, kosmetik, obat, dan lain lain. Coba aja kalo pohon itu gak ditoreh? Dia rindang,, bentuknya bagus. Tapi dia kan gak menghasilkan sesuatu yang banyak banget manfaatnya kayak minyak gaharu itu. Ya, intinya minyak gaharunya gak keluar… Kita ni lagi ditoreh dan terinfeksi. Ya gak apa. Jalanin aja… dinikmatin aja… semoga hasilnya kita juga bisa berguna buat diri kita sendiri dan orang lain.”

“amien.”

Pengalaman Pertama Terjebak di Lift

Ketika aku dan teman teman sedang duduk duduk di lorong kampus untuk menunggu kuliah yang dimulai jam 1 (saat itu jam 12), 2 orang temanku datang dan mengajak untuk mendaftar responsi praktikum. lalu aku dan 4 temanku ikut mereka mendaftar ujian responsi di laboratorium lantai 3. Kami naik dari lantai 1 ke lantai 3 menggunakan lift. Tiba tiba, saat melewati lantai 2, lift tersebut macet dan berhenti. Kami berenam yang sedang di lift langsung panik. Jantungku juga jadi berdegup kencang. Aku tidak suka tempat yang sempit dan sumpek, apalagi dengan status terjebak dan tidak tau bagaimana cara keluar. Dua orang temanku berteriak panik.

“kamu sih ah, main main.” Kata seorang temanku pada yang lain (dan tertuduh memang sedang bercanda sesaat kejadian itu).

“aih, maafkan aku teman teman.” Kata tertuduh.

“Kamu bukan temanku.” Kata seorang lain yang sedari tadi masih terlihat tenang.

Tertuduh yang memang berbadan besar mencoba membuka pintu lift agar paling tidak kami bisa keluar. Tapi percuma, sebab posisi kami sudah melewati pintu lantai 2 dan pintu yang dilantai 2 itupun tidak bisa kami buka dari dalam. Lalu tertuduh itu menutup kembali pintu lift.

“Kayaknya ini kalo ada yang menekan tombol dari luar liftnya bisa jalan deh.” Kata seorang yang lain lagi. “Aku coba telpon temen yang masih nongkrong di lorong.”

Setelah beberapa saat,

“Aih, gak diangkat ni…”

Lalu kami menekan bel alarm tapi belum juga mendapat respon.

“Kita menyedihkan yah…” kataku sambil memelas.

Aku saat itu jadi teringat film kartun yang pernah aku tonton. Dalam film itu, seseorang terjebak di lift tapi kemudian ada seorang anak acrobat yang mendengar alarmnya. Anak acrobat tersebut lalu memanjat melalui dinding dan muncul di lift dari atas untuk member bantal dan radio serta menyuruh mereka untuk tenang sebab dia akan mencari pertolongan dan akhirnya anak tersebut memanggil pemadam kebakaran. Aku berandai andai saat itu kejadian itu bisa terjadi padaku juga. Sayangnya, ketika aku melihat ke atas, atap lift tempatku terjebak ini tidak bisa dibuka begitu saja seperti yang di film kartun. Pupus sudah harapanku.

Beberapa saat kemudian, terdengar seorang bapak memanggil, “Liftnya macet yah?”

Kami lalu berteriak, “Iya, pak…”

“di mana?”

“Lantai 2.”

“ada berapa orang di sana?”

“6 orang”

“tunggu sebentar yah…”

Seorang temanku berkata, “Kita akan selamat… eh, ngomong ngomong, aku jadi inget, Bu Kristin pernah terjebak di lift juga kan?”

Aku jadi teringat seorang dosenku, saat akan mengajar di kelasku, beliau terjebak di lift, dan liftnya terus bergerak naik turun dari lantai 3 ke lantai 4. Saat aku mendengar cerita itu pertama kali, itu hal yang lucu untuk membayangkan kepanikan yang dirasakan dosenku itu. Namun sekarang, setelah mengalami sendiri, hal itu menjadi tidak lucu lagi. Itu sangat mengerikan! Terjebak di lift yang tidak bisa berhenti dan hanya seorang diri.

“Lebih serem bu Kristin kali. Ibu hanya seorang diri dan terjebak di lift yang tidak bisa berhenti. Kita mending, liftnya berhenti dan kita berenam.” Kata temanku yang lain.

Setelah 30 menit (dengan pembulatan), kami akhirnya terselamatkan. Posisi kami hanya beberapa inchi di atas lantai, sehingga ketika pintu terbuka, kami masih bisa loncat untuk keluar dari lift di lantai 2. Kami melanjutkan perjalanan menuju lantai 3 dengan naik tangga.

Setelah keluar, kami menertawai kejadian yang menimpa kami itu karena kami sadar betul itu adalah akibat dari perbuatan usil temanku yang sejak tadi jadi tertuduh. Jujur, saat keluar lift, jantungku masih berdetak dengan cepat. Efek takut yang dialami tadi masih belum bisa hilang begitu saja.

Pelajaran yang kudapat disini adalah, jangan menertawakan kemalangan yang dialami orang lain, apa lagi itu orang tua. Sebab kemalangan itu bisa menimpa diri kita juga…

Sehari Jadi Relawan di Muntilan

Hari ini seharusnya aku dan teman teman dari goodreads rencananya ingin plesir ke candi Ijo karena kita sangat penasaran dengan candi itu tapi karena beberapa hari sebelum hari ini terjadi bencana gunung Merapi meletus maka kami berubah haluan menjadi relawan ke daerah pengungsian.

Kami berkumpul di terminal jombor pagi ini jam 8. Di sana ternyata aku tidak hanya berangkat dengan teman teman goodreads saja, tetapi juga dengan teman teman dari komunitas blogger yang jumlahnya mungkin jika ditotal menjadi 15an orang. Setelah pembagian transportasi, kami segera menuju ke daerah Muntilan, yang menjadi daerah sasaran kami dengan membawa beberapa bantuan seperti popok bayi, masker, buku buku cerita anak-anak, mainan, susu, dan yang lainnya. Kami mempersiapkan diri untuk mengajak anak – anak mengisi kekosongan waktu mereka dengan menggambar sehingga kami membawa kertas dan krayon juga.

Di muntilan, Jawa Tengah, kami singgah di coordinator wilayah (rumah pelangi) di sana untuk didistribusikan kembali ke posko pengungsian. Karena banyaknya jumlah kami, kami dibagi dalam 2 kelompok untuk ditempatkan di posko yang berbeda. Aku dengan 4 orang teman di tempatkan di posko yang terletak di sebuah SD negri yang disulap menjadi tempat pengungsian dan dapur umum. Yang bisa kami lakukan adalah melakukan pendampingan pada anak anak untuk mengisi kekosongan waktu mereka.

Ternyata, di tempat itu, jumlah anak anaknya jauh lebih banyak dari bayangan kami sebelum di tempatkan. Anak anak itu jumlahnya hampir seratus orang. Kami yang hanya berlima menjadi bingung. Akhirnya, kami membagi anak tersebut dalam 2 kelompok besar dan menyuruh mereka menggambar. Aku sedikit merasa sungkan pada anak anak itu, karena mereka bisa berbicara dengan bahasa jawa halus pada sesama mereka. Aku saja, kadang jika sedang mengomel dengan ayahku, aku berbicara dengan bahasa jawa kasar. Selebihnya, aku berbicara bahasa Indonesia dengan orang tuaku. Sebelum itu, kami membagikan susu pada anak – anak tersebut. Aku agak terkejut karena mereka saat itu aku sedikit terperanjat. Sebab mereka ternyata agak anarki. Ketika temanku membuka kerdus susunya, mereka langsung mengerumuni temanku dan berebut.

Saat disuruh menggambar, semua anak di kelompok yang aku pegang, menggambar gunung. Aku benar benar terpana. “mereka ni kenapa yah?” aku hanya bertanya dalam hati, “mereka ni anak anak gunung, jadi kalo disuruh nggambar adanya gambar gunung ma sawah. Kalo anak pantai, apakah mereka jika disuruh nggambar juga bakal nggambar gunung? Atau mereka bakal nggambar ikan yah?” sebenarnya jujur saja, dulu waktu SD (mungkin sampai sekarang). Jika aku disuruh menggambar, aku bakal menggambar sama dengan mereka: gunung, sawah yang ada sungainya lalu rumah dan ada petaninya. Karena memang dengan pemandangan itu aku dibesarkan. Bahkan sampai saat ini pemandangan itulah yang menghiasi setiap hariku.

Saat itu lalu datang ibu ibu (yang menurut temanku adalah ibu ibu pejabat dari badan *** (sensor. Hehe)). Mereka berfoto foto ala foto narsis. Lalu menyerahkan bantuan berupa mainan secara simbolis. Disitu gak masalah sih. Masalahnya, mereka itu minta difoto saat penyerahan bantuannya itu di tengah anak anak yang sedang berkegiatan. Lalu langsung pergi. Tanpa menemui coordinator di posko tersebut. Dari situ aku berfikiran buruk pada mereka. “Kayaknya mereka tuh Cuma pingin safari aja deh…” gak baik sih berfikiran buruk, siapa tau mereka bener bener sibuk. Tapi orang sibuk gak akan sempet foto foto ala narsis kan??

Selesai acara menggambar, lalu salah seorang temanku membacakan buku untuk mereka. Setelah itu, ada seorang ibu yang memandu anak anak untuk bernyanyi. Setelah itu kami membagikan bantuan logistic dan langsung pulang ke Jogja. Sebelum kembali ke jogja, kami mampir ke rumah makan lembah ngosit. Di sana selain makan kami berkenalan dan saling bercerita karena memang ada teman teman yang baru pertama kali itu bertemu, tentu saja itu diluar dari pertanyaan rutin, “Sekarang lagi baca buku apa?”.

Beberapa gambar dari anak anak di pengungsian:

Keren ni gradasi warnanya…

Anne of the Island

a href=”http://www.goodreads.com/book/show/6594982-anne-of-the-island” style=”float: left; padding-right: 20px”>Anne of the IslandAnne of the Island by L.M. Montgomery
My rating: 4 of 5 stars

Buku ke 3 dari Anne of the Green Gables yang menceritakan masa masa Anne kuliah.

Kekonyolan Anne pun masih berlanjut dengan keukeuhnya dia untuk menunggu dilamar oleh pria yang diimpikannya, sehingga menolak pria pria yang melamarnya. Walaupun pada akhirnya dia menerima lamaran dari seseorang yang tidak seperti bayangannya tetapi selalu dibenaknya (kayak cerita ftv yah? hahahaha).

belum lagi tokoh tokoh disekitar Anne yang memiliki sifat yang unik menambah bumbu pada cerita ini.

Ceritanya sebenarnya sederhana saja tetapi sangat menarik (makanya saya suka). Cerita Anne yang telah beranjak dewasa ini membangkitkan bayangan saya tentang gadis Eropa jaman dahulu yang imagenya sangat manner (berbeda dengan image gadis eropa jaman sekarang).

The Miracle of Caffeine

The Miracle of Caffeine (Manfaat Tak Terduga Kafein Berdasarkan Penelitian Mutakhir)The Miracle of Caffeine by Bennet Alan Weinberg
My rating: 5 of 5 stars

buku ini membuat kita membuka pikiran kita bahwa caffeine itu tidak semengerikan yang kita sangka sangka selama ini.dengan takaran yang benar, caffeine memberi keuntungan yang lebih dari yang kita bayangkan. (kecuali untuk beberapa orang yang memang alergi dengan caffeine). tentu saja jika berlebihan kita akan memperoleh efek sampingnya.(segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik kan?)tetapi dengan takaran yang tepat banyak manfaat dari caffeine yang dapat kita petik. misalnya saja, kaffeine menjaga agar kita tetap konsentrasi, dapat menenangkan pikiran kita, dan dapat menekan nafsu makan.karena efek caffeine sangat tergantung pada pribadi masing masing, sehingga caffeine memiliki takaran optimal yang berbeda untuk tiap orang. dalam buku ini dijelaskan bagaimana kita mencari takaran caffeine yang tepat untuk kita.Dalam buku ini juga diberikan beberapa produk produk yang mengandung caffeine beserta jumlah kandungannya. hanya sayang, produk produk tersebut hanya beberapa yang dijual di Indonesia. kebanyakan, itu adalah produk dari Amerika.

TAIKO

Taiko (Indonesian edition)Taiko by Eiji Yoshikawa
My rating: 4 of 5 stars

perjalanan seorang hideyoshi sejak dia kanak kanak dan terbuang menjadi seorang Taiko ketika dia berusia 50 tahun.
cerita yang sangat menarik. kegigihan Hideyoshi dalam mencapai impiannya untuk menjadi seorang yang besar sangat mengagumkan. walaupun dalam buku ini sangat banyak nama tokoh dan nama tempat yang jika tidak konsentrasi membacanya saya sempat kehilangan arah.
karena membaca buku ini, saya jadi ingin sekali pergi mengunjungi istana Hideyoshi di Osaka Jepang. (semoga suatu saat bisa kesampaian.)

Anne of Green Gables

Anne of Green Gables  (Anne of Green Gables, #1)Anne of Green Gables by L.M. Montgomery
My rating: 5 of 5 stars

NI cerita sederhana tapi menarik. saya menyukai jenis cerita yang seperti ini. Seseorang yang bisa menciptakan karakter yang berdaya imajinasi sangat tinggi seperti Anne adalah orang yang daya imajinasinya luar biasa tinggi. dan itulah Montgomery.
Cerita tentang seorang anak yang tadinya tidak diharapkan kehadirannya, pada akhirnya malah selalu dirindukan dan disayangi.
Cerita ini pun menggambarkan keadaan yang biasa saja, anak dengan imajinasinya menciptakan sesuatu yang biasa saja menjadi sangat luar biasa. dan orang dewasa yang praktis, logis, dan kadang dipandang kurang kreatif oleh anak anak.
Sangat menyenangkan membaca buku ini.

View all my reviews >>

The Winner Stands Alone

The Winner Stands Alone (Sang Pemenang Berdiri Sendirian) The Winner Stands Alone by Paulo Coelho

My rating: 5 of 5 stars aku tau sekarang kenapa daftar peminjamnya banyak banget sampe nomerku jadi yang paling bawah. ni novel keren! bahkan hanya dengan setting waktu 24 jam saja,, kita bisa diajak melihat begitu banyak dunia. mulai dari dunia seorang pengusaha kaya asal rusia (yang kisahnya menjadi cerita utama), gadis bernama gabriela yang berobsesi menjadi artis, model pemula bernama Jasmine, hingga para pegawai kepolisian Cannes. yang menarik dari novel ini, Paulo Coelho bisa menceritakan setiap orang yang terlibat dalam novelnya. sehingga setting 24 jam bisa menjadi buku setebal 468 halaman. Dan pemenang, tidak akan bisa berdiri sendiri. disadari atau tidak, pasti ada yang berpengaruh dalam hidupnya, yang memberinya motifasi untuk menang. View all my reviews >>

Veronika Decides to Die Veronika Decides to Die by Paulo Coelho

My rating: 4 of 5 stars
pingin baca buku ini gara2 liat resensinya mbak lita,, and I found the book at Library…. ohohohoho.

kisah Veronika ini sebenernya mengingatkan saya pada cerita tokoh dalam film 3 idiots. Veronika menjalani hidup yang dipilihkan ibunya, dan memendam keinginannya untuk menjadi pianis. dalam 3 idiots, ada 1 orang tokoh yang memendam keinginannya untuk menjadi photografer karena oleh ayahnya dipaksa menjadi insinyur. akan tetapi pada akhirnya, sang tokoh berhasil meyakinkan ayahnya bahwa dia lebih bahagia menjadi seorang fotografer dibanding menjadi insinyur.
tapi ada juga tokoh dalam film tersebut yang tidak dinampakkan (hanya diceritakan) yang bunuh diri karena dia dipaksa menjadi insinyur oleh ayahnya.

dari cerita 3 idiots dan veronika, saya berfikir, bahwa orang lain mungkin bisa menjadi sumber inspirasi kita,, tapi tak bisa dipungkiri,, mungkin ada juga orang yang menjadi sumber ke tidak bahagiaan kita.

View all my reviews >>

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.